Indonesia vs Hongkong 4-1

Indonesia U-19 vs Hongkong U-19
Grup F Kualifikasi AFC U-19
17 November 2009
18:15 WIB
Stadion Si Jalak Harupat Soreang Kabupaten Bandung

Gol: Syamsir Alam 1, 37, Abdul Rahman Lestaluhu 52, 88; Lau Cheuk Hin 6

Line Up: Tri Windu Anggono, Yericho Christiantoko , Feri Firmansyah, Ferdiansyah, Abdul Rahman Lestaluhu, Syamsir Alam, Alan Martha, Taji Prashetio, Mochammad Zainal Haq, Rizky Ahmad Sanjaya Pellu, Alfin Ismail Tualasamony.

Pada pertandingan terakhirnya ini Timnas junior tampil lepas, tidak seperti 2 pertandingan pertama mereka.

Hal ini diakui Kapten Syamsir Alam dan juga sang pelatih Cesar Payovichpada konfrensi pers sesudah pertandingan. “Kami bermain lepas, tidak seperti pada pertandingan melawan Singapura dan Jepang, saat itu kami masih grogi,” ucap Alam.

“Melawan Singapura kita bermain bagus namun karena masih grogi, kita tak mampu menciptakan gol. Melawan Jepang kita main jelek. Psikologi anak-anak masih labil, itu wajar untuk umur mereka. Setelah itu ada recovery mental, dan mereka mampu main excelent, pertandingan melawan australia merupakan titik baliknya.” sambung bule asal uruguay ini.

Pressing dari lini tengah ditambah penetrasi dari para penyerang membuat pertandingan kali ini mutlak menjadi milik Indonesia. Ini menunjukan bahwa tim ini mempunyai masa depan yang bagus.

“Pertandingan kali ini adalah bukti bahwa mereka bisa. Jika mereka mau bekerja keras dan disiplin dalam latihan, percayalah bahwa indonesia mempunyai masa depan yang cerah. Di Uruguay, kami mempunyai fasilitas kelas eropa, sekarang tinggal bagaimana kita berlatih secara serius, seperti kata saya sebelumnya, harus ada proses yang tidak mudah,” sebut Cesar.

Sang manager, Demis Djamaoeddin, tak lupa mengucapkan terima kasih untuk masyarakat yang telah memberikan dukungan terhadap para penerus masa depan sepakbola indonesia. Juga dukungan dari keluarga para pemain yang sudah sangat memberikan semangat bagi para pemain.

“Kami hari ini bukan menang piala dunia, namun kita patut berbangga. Ada masa depan cerah terhadap tim ini. Mereka adalah para penerus dari era sepakbola Indonesia selanjutnya yang layak untuk diberikan kepercayaan untuk membawa kebanggaan bangsa ini,” katanya.

Namun sayang, kelanjutan pembinaan pada tim ini tampaknya belum begitu jelas. Pada januari nanti program pembinaan di uruguay ini akan dilanjutkan namun bukan tim ini yang kembali dikirim. PSSI akan mengirimkan squad baru lainnya yang lebih muda.

Timnas U-19 Ikuti Jejak Kelam Timnas U-23

Kekalahan dua kali Tim Nasional (Timnas) di bawah usia 19 tahun (U-19) pada kualifikasi Piala Asia U-19 2010 Grup F mengingatkan saya pada mimpi buruk Timnas U-23 di Asian Games 2006 Qatar. Timnas U-19 tampil di kualifikasi Piala Asia U-19 setelah dua tahun digembleng di Uruguay. Timnas U-23 berlaga di Asian Games seusai empat bulan lebih berlatih di Belanda.

Saat membela Indonesia berkostum garuda di dada, kedua tim itu sama-sama menelan kekalahan menyesakkan. Timnas U-23 digunduli Irak 0-6 pada laga pertama Asian Games 2006, lalu disikat Suriah 1-4 pada laga kedua. Bobby Satria dan kawan-kawan pun harus angkat koper tanpa memenangkan satu pun dari tiga laga mereka di Qatar. Pada laga terakhir, mereka ditahan Singapura 1-1.

Timnas U-19 telah menyelesaikan dua laga dengan hasil, seperti bisa disaksikan lewat siaran langsung televisi: kalah 0-1 dari Singapura (7/11) dan dicukur Jepang 0-7 (9/11). Tim asuhan Pelatih Cesar Payovich itu masih akan menjalani tiga laga berikutnya, yakni lawan Taiwan (12/11), Australia (14/11), dan Hongkong (17/11). Tetapi, kenangan buruk itu kembali membayang di depan mata: tersingkir secara memalukan!

Sekadar gambaran bagi yang tidak mengikuti format kualifikasi Piala Asia U-19, babak kualifikasi itu diikuti banyak negara se-Asia dan dibagi ke dalam tujuh grup. Hanya tim juara dan runner-up plus dua tim peringkat ketiga terbaik di masing-masing grup yang lolos ke putaran final tahun 2010. Dari dua kekalahan itu, hingga matchday ke-2 pada Senin (9/11) –jangankan berada di urutan kedua— Indonesia sudah pasti berada di bawah peringkat ketiga.

Bahkan dengan kebobolan gol yang begitu banyak, mereka menghuni juru kunci klasemen bersama Taiwan yang juga kalah dua kali dengan kemasukan total delapan gol. Kekalahan 0-7 dari Jepang sejauh ini merupakan kekalahan paling telak di Grup F. (http://www.the-afc.com/en/afc-u19-championship-2010-schedule-a-results) Meski kurang pas untuk dibandingkan, penampilan dua laga pertama Timnas U-19 itu lebih buruk dari dua laga senior mereka di Asian Games 2006.

Kurang apa persiapan Syamsir Alam dan kawan-kawan? Mereka digodok dua tahun di Uruguay, lalu tampil di depan pendukung sendiri, tetapi kita tidak melihat hasil latihan mereka di Amerika Latin itu. Saat melawan Singapura, apalagi sewaktu menghadapi Jepang, Timnas U-19 seperti tidak bermain sepak bola. “Tidak bermain sepak bola” dalam pengertian mereka bermain sebagai satu tim yang berkekuatan 11 pemain.

Setiap pemain seperti bermain sendirian, unjuk kemampuan individu sendiri, dan tidak melihat rekan-rekannya juga bermain di lapangan yang sama. Mereka bermain seolah ingin menjadi “bintang”, seperti yang diinginkan PSSI ketika mengirim mereka ke Uruguay. Saya yakin, siapa pun yang melihat pertandingan tidak akan menyimpulkan seperti yang diucapkan Ketua PSSI Nurdin Halid bahwa “Sama sekali tidak mengecewakan. Mereka mampu membuat banyak peluang.” (http://bola.kompas.com/read/xml/2009/11/07/19051740/kalah.0-1.nurdin.halid.puas)

Hal lebih buruk diperlihatkan saat pemain Timnas U-19 menghadapi Jepang. Mereka tampak semakin tidak bisa bermain sepak bola. Seorang rekan menyeletuk bertanya, dengan penampilan seperti itu apakah mereka benar-benar berlatih sepak bola selama di Uruguay? Latihan apa di sana? Saya sendiri kehabisan kata-kata dan tidak tega untuk melukiskan penampilan mereka. Masih terngiang di telinga saya, bagaimana Pelatih Foppe de Haan yang melatih Timnas U-23 di Belanda melabeli pemain-pemain kita dengan kata-kata seperti “tindakan bodoh”, “bermain tak cerdas”, “lemah berpikir”, dan sebagainya setelah kegagalan di Asian Games 2006.

Pemain hanya “pion”

Terasa menyakitkan, memang. Tetapi, itulah kenyataan jika melihat permainan mereka di lapangan. Para pemain yang rata-rata masih berusia 17 tahun itu bukanlah pihak yang harus menanggung beban ini. Mereka hanya menjalankan kebijakan PSSI, yang menginginkan jalan instan dalam membentuk timnas. Mereka bagaikan “pion” dari puzzle yang dimainkan PSSI.

Pekan lalu, beberapa hari menjelang kualifikasi, digelar jumpa pers soal persiapan Timnas U-19 di MU Cafe, kompleks Sarinah Plaza, Jakarta. Dalam acara itu, hadir antara lain Manajer Timnas U-19 Demis Djamaoeddin dan Sekjen PSSI Nugraha Besoes. Demis bercerita banyak soal “derita dan pengorbanan” pemain selama dua tahun di Uruguay. Tiga bulan pertama, kata Demis, fisik pemain hancur lebur. “Pemain kita tidak punya nutrisi yang baik, tidak punya kesehatan gigi yang baik. Ada pemain yang harus dicabut giginya tujuh buah karena. Mereka harus menambah konsumsi susu dan asupan daging. Mereka juga harus mengurangi nasi,” papar Demis.

Ia juga memaparkan semangat pemain, yang menurut saya, tidak sehat dan keluar dari jalur sportmanship. “Pemain ingin menyingkirkan Australia dan memilih lolos bersama Jepang,” kata Demis. Dalam berita untuk edisi cetak “Kompas” (Rabu, 4 November 2009), saya menulis hal itu sebagai, “…motivasi yang bisa menjadi kontraproduktif dan bumerang…” Kini, terbukti sudah, betapa motivasi itu bak “senjata makan tuan”.

Besoes mengatakan, proyek pelatnas di Uruguay berbeda dari proyek-proyek serupa sebelumnya yang gagal, seperti Primavera, Baretti, atau Garuda. “Proyek ini untuk melahirkan pemain-pemain yang secara individu berkualitas dan bisa bermain di kompetisi luar negeri. Ada lima saja pemain bintang yang lahir dari proyek ini, sudah sukses,” kata Besoes, yang sudah puluhan tahun berkiprah di PSSI. Singkat kata, proyek ke Uruguay ini tidak lagi berorientasi membentuk timnas, tetapi lebih untuk “mencetak bintang.”

Dari pertimbangan akal sehat, sulit memahami logika yang dibangun PSSI. Sepak bola bukan cabang individu, melainkan cabang yang melibatkan 11 pemain untuk bermain kolektif secara tim. Bagaimana mungkin menjadi bintang jika pemain tidak bermain kerja sama dengan rekan setimnya? Karenanya, wajar saja, jika pemain U-19 cenderung bermain sendiri, tidak melebur dalam tim, dan tidak tahu kapan dan bagaimana mengoper bola, atau menyusun serangan. Wong, “cetak biru” mereka berlatih bukan untuk membentuk tim!

Terlepas dari soal itu, paradigma pembentukan timnas yang dirancang PSSI sangat aneh. Untuk membentuk timnas, bukannya dengan membangun infrastruktur kompetisi. Dengan mengumpulkan para pemain dalam tim yang sudah digaransi mewakili Indonesia, pemain-pemain itu tidak mengalami atmosfer kompetisi. Mereka seperti berada di area comfort zone dan merasa tidak perlu lagi bersaing untuk masuk timnas.

Introspeksilah, PSSI

Dua kali kekalahan Timnas U-19 itu terjadi setelah beberapa hari sebelumnya timnas senior kalah 1-3 dalam uji coba melawan Singapura di Singapura. Situasi ini mirip saat Timnas U-23 gagal di Asian Games 2006. Saat itu, pada saat hampir bersamaan, timnas senior juga njeblok saat tampil pada sebuah turnamen di Vietnam, antara lain kalah 0-2 dari tim U-23 Vietnam dan takluk 0-5 dari tim U-23 Finlandia. Situasi kali ini bahkan lebih parah.

Sebab, bukan hanya pada level timnas U-19 dan timnas senior, penampilan timnas U-23 yang dipersiapkan untuk SEA Games di Laos, Desember mendatang, juga tidak kalah memalukan. Mereka kalah 1-3 dalam uji coba melawan tim U-23 Malaysia di Palembang. Bukan hanya kalah, tetapi juga terlibat kericuhan di lapangan. Dua pemain Indonesia dikartu-merah! Pelatih Malaysia, Rajagopal, pun menyampaikan kekecewaan atas uji coba ini. Kekecewaan yang seharusnya menjadi bahan introspeksi pengurus PSSI.

“Kami datang ke sini untuk bermain bukan bersitegang dengan wasit atau pemain. Jika Indonesia masih bermain seperti ini, saya prediksi akan sulit (Indonesia) untuk dapat bersaing dengan negara-negara Asean lainnya pada tahun-tahun mendatang,” kata Gopal, seperti dikutip kantor berita “Antara”. “Jika begini sepak bola Indonesia sendiri yang rugi.”

Nah, apakah tidak malu mendapat kuliah dari Negeri Jiran seperti itu?*

Cesar : Jangan Salahkan Pemain

Pelatih Timnas U-19 Cesar Payovich menyatakan permohonan maaf atas hasil buruk yang dialami Indonesia dalam dua laga awal AFC U19 Championship 2010 Qualifiers Group F. Ia meminta kepada semua pihak agar tidak meyalahkan pemain atas hasil ini.

“ Sayalah yang bertanggung jawab atas kekalahan telak dari Jepang ini. Tim lawan memang sangat excellent. Tapi tolong jangan meyalahkan pemain. Mereka masih dalam proses menjadi pemain yang bagus di masa dating,” kata Cesar Payovich dalam jumpa pers usai laga Indonesia vs Jepang, Senin (9/11) di Stadion Si Jalak Harupat, Bandung.

Cesar menambahkan, para pemain timnas U-19 Indonesia memang bermain di dalam kelompok usia yang di atasnya. Pemain Jepang memiliki usia hamper 19 tahun. Sama seperti Singapura, menurut Cesar, pemain Jepang sudah hampir jadi pemain professional.

“ Selain itu, mereka sudah memiliki pengalaman internasional yang tinggi. Sedangkan Alan Martha dkk sangat minim jam terbang internasional. Setelah berkompetisi di Uruguay, tak sekalipun mereka melakoni uji coba internasional,” ungkap Cesar.

Karena minim uji coba itulah, Cesar menilai pemainnya sering kehilangan konsentrasi di lapangan. Proses gol Jepang yang bersarang ke gawang Indonesia juga lebih karena pemain yang kehilangan konsentrasi.

Cesar juga meminta pengertian kepada seluruh fans timnas Indonesia. Program pelatihan pemain di Uruguay ini masih dalam proses. Butuh waktu untuk mencetak pemain dan tim yang memiliki kualitas high level. Potensi untuk menjadi lebih baik sebenarnya ada pada diri Syamsir Alam dkk.

Jepang Masih Terlalu Kuat Bagi Indonesia

Timnas U19 Indonesia kembali harus menelan pil pahit dalam lanjutan kualifikasi grup F Piala Asia U-19 2010. Dalam laga keduanya, menghadapi Jepang, Senin (9/11), tim asuhan pelatih Cesar Payovich ini kalah telak 0-7.

Kelas timnas U-19 Jepang memang berada di atas Indonesia. Baik dari segi usia maupun kematangan bermain. Baru lima menit pertandingan berlangsung, Jepang sudah unggul melalui Takagi Toshiyuki. Enam menit kemudian, Nagai Ryo menggandakan keunggulan Jepang menjadi 2-0.

Ketinggalan dua gol, Indonesia berusaha untuk memperkecil kedudukan. Beberapa peluang pun sempat tercipta, diantaranya melalui Alan Martha dan Yandi Sofyan. Namun, di tengah sulitnya upaya Indonesia untuk mencetak gol, tim lawan justru mampu menambah keunggulan pada menit ke-42. Kali ini giliran Kato Masaru yang menjebol gawang Beny Stya Yoewanto.

Di babak kedua, permainan Indonesia tidak berubah banyak. Sebaliknya, Jepang justru bisa semakin mudah menembus pertahanan Indonesia yang digalang oleh kapten kesebelasan M Zaenal Haq. Empat gol tambahan bersarang di babak kedua ini. Takagi Toshiyuki berhasil menambah dua gol pada menit ke 53 dan menit 57. Dua gol lagi dihasilkan Takahashi Shohehi menit 55 dan Nagai Ryo menit ke-72. Hingga pertandingan usai, tak ada gol yang mampu dilesakkan Indonesia ke gawang Jepang.

Skuad Indonesia :

Kiper : Benny Stya Yoewanto

Belakang : Alfin Ismail, Zaenal Haq, M Syaifuddin, Yericho Cristiantoko

Tengah : Feri Firmansyah, Rizky Sanjaya, Abdul Rahman

Depan : Alan Martha (Reffa Money), Vava Mario Yagalo (Sahlan Sodik), Yandi Sofyan (Ridwan Awaludin)

AWAL MULA DIBENTUKNYA GRUP BAND UNGU

Hallo…Fren, anda pasti seneng banget dunk ma band yang satu ni? Dan pastinya sebelum anda suka udah pada kenal juga kan ma grup band UNGU Band yang digawangi oleh cowok2 keren ada Pasha (vokal), Onci(Gitaris), Makki(Bassis), Enda’ (Gitaris), dan Rowman (Drummer). Anda mulai penasaran tentang perjalanan yang mereka buat selama 10 tahun bagaimana????
Nah…..klo anda pengen tahu kenapa mereka pake nama UNGU juga kenapa, karena mereka pengen para penggemarnya gampang untuk mengingat namanya dan cepat menempel di otak, jadinya
mereka memberi nama band ini UNGU!, Awalnya mereka dari band yang berbeda, kebetulan sering latihan di studio yang sama dan akhirnya nge-jam bareng. Tapi nggak cuma di studioaja mereka nge-jam bareng, tapi kebawa sampe ke panggung-panggung kecil juga ke acara pensi sekolah. Dan akhirnya terbentuklah band UNGU dibelantika musik Indonesia.
Band UNGU ini juga mulai serius dalam menjalani karirnya sekitar tahun 2000-an, tapi gitaris dari band UNGU ini juga mulai bergabung pada tahun 2002. Pasti udah pada tau dunks…siapa
ya???dia lebih dikenal dengan sebutan ONCY. Qta juga lebih mengenal gitaris yang satu ini pada saat dia menjadi gitaris juga difunky kopral bener kan Fren???
Album pertama UNGU yang dirilis tanggal 6 Juli 2002 yang berjudul LAGUKU. Tapi sebelumnya, UNGU juga ikut mengisi 2 lagu di album kompilasi KLIK bersama Lakuna, Borneo, Piknik dan Energy. Ternyata fren dari 2 lagu ini band UNGU mulai mempunyai semangat untuk mempunyai album sendiri, tapi ternyata akhirnya berhasil juga ya mereka membuktikannya. Single
hits yang terkenal banget dan sempet dipakai juga sebagai ost. Sinetron ABG yang ada disalah satu televisi swasta yaitu ” Bayang Semu”.
Kemudian fren karena mereka sudah berhasil membuat lagu yang bisa diterima ditelinga masyarakat Indonesia. Kemudian mereka mulai merencanakan pembuatan album keduanya cukup dengan waktu 3 minggu mereka berhasil menyelesaikan album keduanya yang berjudul Tempat terindah tapi baru mulai dirilis sekitar awal tahun 2004. dengan single hitsnya ” KARENA DIA KAMU “ yang pembuatan video klipnya Ungu sampe – sampe kabarnya rela ditangkap polisi karena membuat macet jalan protokol. Kenapa? Karena di video klip tersebut, UNGU main di atas trailer panjang yang berjalan mulai dari jalan thamrin, sudirman, semanggi sampai ke daerah senen… bisa dibayangkan betapa macetnya jalan hari itu hehehehe…. ?
Diantara promo album kedua dan show di berbagai kota, UNGU juga menyempatkan diri untuk menciptakan dan menyanyikan lagu di luar album, Contohnya mereka ikutan menyumbangkan lagu “CIUMAN PERTAMA” untuk ost Buruan Cium Gue yang akhirnya harus ditarik dari peredaran. Kemudian UNGU juga mengaransemen ulang lagu “BIMBI” milik tante Titiek Puspa. Dan yang Terakhir, UNGU dipercaya om Chrisye untuk menciptakan dan berduet di lagu “Cinta Yang Lain”.
Tapi ternyata Fren dibalik kesuksessannya mereka sempet juga dikabarin bubar, tapi ternyata isu itu malahan membuat mereka jadi semakin mau membuktikan kekuatan UNGU dengan pembuatan album ketiga.Hebat banget ya…padahal yang qta sering denger setiap band – band Indonesia jarang banget bisa bertahan lama dalam industri musik Indonesia.
Album ketiga “MELAYANG” di awal Desember tahun 2005 mulai dirilis. Dengan gambar sayap pesawat di cover album, UNGU ingin bisa terbang dan menerbangkan semua keinginan, cita-cita dan harapan mereka berlima juga untuk para penikmat lagu UNGU. Dalam album yang satu ini UNGU mempunyai target yang lebih besar lagi. Kekuatan lagu dan lirik “DEMI WAKTU” membuat album ini meraih Platinum Award di bulan pertama penjualannya. Ternyata fren, semangat dari grup band yang satu ini ga Cuma sampai disitu aja
karena nggak lama setelah itu, UNGU kembali menerima Double Platinum Award untuk album MELAYANG. WOW!
Nggak Cuma itu juga ya fren, ternyata ada kebanggaan lainnya buat grup band UNGU karena akhirnya album Melayang juga dirilis di Malaysia pada awal bulan Maret 2006. Dan ternyata sambutannya luar biasa…bisa dibilang ini awal karir mereka menuju GO INTERNASIONAL dunk ya?!!!
Dan kabar terakhir yang qta tau band UNGU pada tahun 2006 mulai merilis album yang beraliran religi dengan single hits yang
paling populer dari mulai anak kecil sampai orang dewasa yang judulnya ” SURGAMU ”, teruzzz….pada tahun 2007 UNGU mengeluarkan album lagi yang berjudul UNTUKMU SELAMANYA dengan single hitsnya ” Kekasih Gelapku”, untuk lagu ini bertemakan tentang apa ya??kalau qta denger dari liriknya seehh…seseorang yang mempunyai perasaan terhadap orang lain padahal seseorang ini yang pasti sudah mempunyai pasangan, dan mereka pun dalam menjalani hubungannya harus secara diam – diam walaupun ini secara nggak langsung dialami sama istrinya pasha terhadap pasha sendiri, malahan yang menjadi kekasih gelapnya itu ternyata temannya pasha sendiri yaitu Idea dari grup band Marvells.
Dalam albumnya ini berisi 12 lagu yang masih bertemakan tentang cinta…
kemudian pada bulan ramadhan tahun 2007 juga grup band UNGU ini mengeluarkan lagi album yang beraliran religi…..kira – kira bakalan bisa menuai kesuksesan pada album – album yang sebelumnya ya nggak fren?
Ya…selalu qta berharap semua artis yang masuk kedalam belantika musik Indonesia bakalan selalu sukses dan pastinya harapan dari mereka buat para penggemarnya beli kaset dan juga CD yang sudah dirilis tapi jangan beli yang bajakan loh…..

Enam Zonasi Gempa Bumi di Indonesia

Jakarta, (tvOne)

Dua gempa dengan berkekuatan besar terjadi di Indonesia. Yang pertama, gempa 7,3 skala Richter di Tasikmalaya, Jawa Barat pada Rabu 2 September 2009, lalu gempa 6,8 skala Richter di Wonosari, Yogyakarta pada Senin 7 September 2009 tadi malam.

Meski terjadi dalam waktu berdekatan, menurut Kepala Divisi Seismologi Teknik dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, Fauzi PhD mengatakan dua kejadian tersebut tidak terkait langsung.

Terkait ancaman gempa bumi, Fauzi mengatakan sejak dulu ancaman relatif sama, dari pantai barat Sumatera sampai selatan Jawa, Nusa Tenggara. “Tempat-tempat lempeng tektonik, beresiko relatif sama, dilihat dari zonasi gempa” kata dia seperti dilansir VIVAnews.com, Selasa (8/9/2009).

Dijelaskan Fauzi, ada enam zonasi gempa. “Zonasi 6 paling aman di Kalimantan Barat, zona 1 (paling rawan) umumnya di utara Papua. Kemudian di pantai barat Sumatera dan Jawa bervariasi antara 2, 3, dan 4,” tambah dia.

Apakah makin kecil angka zonasi daerah tersebut makin terancam gempa? “Bukan ancaman, ngeri banget,” tambah dia, tertawa kecil. Ditanya gempa apa yang terparah dalam sejarah, Fauzi menyebut Aceh. “Lebih dari 200.000 orang menjadi korban. Di Indonesia belum pernah ada gempa seperti itu,” kata dia.

Dasyat mana dengan Krakatau? “Gempa Aceh lebih dasyat,” tambah Fauzi.

Menurut Fauzi, meski Indonesia rawan gempa, masyarakat diharapkan tenang, meski harus tetap waspada. Terkait adanya prediksi bakal terjadi gempa dasyat, Fauzi menegaskan gempa tak bisa diprediksi kapan dan tepatnya di mana akan terjadi. Prediksi soal gempa dasyat, tambah dia, tak perlu disikapi secara reaksioner. “Kalau menyebut (prediksi) ilmiah, bicara 10-50 tahun mendatang,” tambah dia.

Gempa, ujar Fauzi, sebetulnya menggoyangkan bumi. Dampaknyalah yang mencelakakan. Alih-alih panik masyarakat sebaiknya mempersiapkan kondisi dan lingkungan menghadapi gempa. “Misalnya rumah tak tahan gempa akan mudah rubuh, persiapkan rumah yang tahan gempa agar selamat, termasuk lukisan atau benda-benda berat yang tergantung, turunkan agar tidak berbahaya,” tambah dia.

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!