Timnas U-19 Ikuti Jejak Kelam Timnas U-23

Kekalahan dua kali Tim Nasional (Timnas) di bawah usia 19 tahun (U-19) pada kualifikasi Piala Asia U-19 2010 Grup F mengingatkan saya pada mimpi buruk Timnas U-23 di Asian Games 2006 Qatar. Timnas U-19 tampil di kualifikasi Piala Asia U-19 setelah dua tahun digembleng di Uruguay. Timnas U-23 berlaga di Asian Games seusai empat bulan lebih berlatih di Belanda.

Saat membela Indonesia berkostum garuda di dada, kedua tim itu sama-sama menelan kekalahan menyesakkan. Timnas U-23 digunduli Irak 0-6 pada laga pertama Asian Games 2006, lalu disikat Suriah 1-4 pada laga kedua. Bobby Satria dan kawan-kawan pun harus angkat koper tanpa memenangkan satu pun dari tiga laga mereka di Qatar. Pada laga terakhir, mereka ditahan Singapura 1-1.

Timnas U-19 telah menyelesaikan dua laga dengan hasil, seperti bisa disaksikan lewat siaran langsung televisi: kalah 0-1 dari Singapura (7/11) dan dicukur Jepang 0-7 (9/11). Tim asuhan Pelatih Cesar Payovich itu masih akan menjalani tiga laga berikutnya, yakni lawan Taiwan (12/11), Australia (14/11), dan Hongkong (17/11). Tetapi, kenangan buruk itu kembali membayang di depan mata: tersingkir secara memalukan!

Sekadar gambaran bagi yang tidak mengikuti format kualifikasi Piala Asia U-19, babak kualifikasi itu diikuti banyak negara se-Asia dan dibagi ke dalam tujuh grup. Hanya tim juara dan runner-up plus dua tim peringkat ketiga terbaik di masing-masing grup yang lolos ke putaran final tahun 2010. Dari dua kekalahan itu, hingga matchday ke-2 pada Senin (9/11) –jangankan berada di urutan kedua— Indonesia sudah pasti berada di bawah peringkat ketiga.

Bahkan dengan kebobolan gol yang begitu banyak, mereka menghuni juru kunci klasemen bersama Taiwan yang juga kalah dua kali dengan kemasukan total delapan gol. Kekalahan 0-7 dari Jepang sejauh ini merupakan kekalahan paling telak di Grup F. (http://www.the-afc.com/en/afc-u19-championship-2010-schedule-a-results) Meski kurang pas untuk dibandingkan, penampilan dua laga pertama Timnas U-19 itu lebih buruk dari dua laga senior mereka di Asian Games 2006.

Kurang apa persiapan Syamsir Alam dan kawan-kawan? Mereka digodok dua tahun di Uruguay, lalu tampil di depan pendukung sendiri, tetapi kita tidak melihat hasil latihan mereka di Amerika Latin itu. Saat melawan Singapura, apalagi sewaktu menghadapi Jepang, Timnas U-19 seperti tidak bermain sepak bola. “Tidak bermain sepak bola” dalam pengertian mereka bermain sebagai satu tim yang berkekuatan 11 pemain.

Setiap pemain seperti bermain sendirian, unjuk kemampuan individu sendiri, dan tidak melihat rekan-rekannya juga bermain di lapangan yang sama. Mereka bermain seolah ingin menjadi “bintang”, seperti yang diinginkan PSSI ketika mengirim mereka ke Uruguay. Saya yakin, siapa pun yang melihat pertandingan tidak akan menyimpulkan seperti yang diucapkan Ketua PSSI Nurdin Halid bahwa “Sama sekali tidak mengecewakan. Mereka mampu membuat banyak peluang.” (http://bola.kompas.com/read/xml/2009/11/07/19051740/kalah.0-1.nurdin.halid.puas)

Hal lebih buruk diperlihatkan saat pemain Timnas U-19 menghadapi Jepang. Mereka tampak semakin tidak bisa bermain sepak bola. Seorang rekan menyeletuk bertanya, dengan penampilan seperti itu apakah mereka benar-benar berlatih sepak bola selama di Uruguay? Latihan apa di sana? Saya sendiri kehabisan kata-kata dan tidak tega untuk melukiskan penampilan mereka. Masih terngiang di telinga saya, bagaimana Pelatih Foppe de Haan yang melatih Timnas U-23 di Belanda melabeli pemain-pemain kita dengan kata-kata seperti “tindakan bodoh”, “bermain tak cerdas”, “lemah berpikir”, dan sebagainya setelah kegagalan di Asian Games 2006.

Pemain hanya “pion”

Terasa menyakitkan, memang. Tetapi, itulah kenyataan jika melihat permainan mereka di lapangan. Para pemain yang rata-rata masih berusia 17 tahun itu bukanlah pihak yang harus menanggung beban ini. Mereka hanya menjalankan kebijakan PSSI, yang menginginkan jalan instan dalam membentuk timnas. Mereka bagaikan “pion” dari puzzle yang dimainkan PSSI.

Pekan lalu, beberapa hari menjelang kualifikasi, digelar jumpa pers soal persiapan Timnas U-19 di MU Cafe, kompleks Sarinah Plaza, Jakarta. Dalam acara itu, hadir antara lain Manajer Timnas U-19 Demis Djamaoeddin dan Sekjen PSSI Nugraha Besoes. Demis bercerita banyak soal “derita dan pengorbanan” pemain selama dua tahun di Uruguay. Tiga bulan pertama, kata Demis, fisik pemain hancur lebur. “Pemain kita tidak punya nutrisi yang baik, tidak punya kesehatan gigi yang baik. Ada pemain yang harus dicabut giginya tujuh buah karena. Mereka harus menambah konsumsi susu dan asupan daging. Mereka juga harus mengurangi nasi,” papar Demis.

Ia juga memaparkan semangat pemain, yang menurut saya, tidak sehat dan keluar dari jalur sportmanship. “Pemain ingin menyingkirkan Australia dan memilih lolos bersama Jepang,” kata Demis. Dalam berita untuk edisi cetak “Kompas” (Rabu, 4 November 2009), saya menulis hal itu sebagai, “…motivasi yang bisa menjadi kontraproduktif dan bumerang…” Kini, terbukti sudah, betapa motivasi itu bak “senjata makan tuan”.

Besoes mengatakan, proyek pelatnas di Uruguay berbeda dari proyek-proyek serupa sebelumnya yang gagal, seperti Primavera, Baretti, atau Garuda. “Proyek ini untuk melahirkan pemain-pemain yang secara individu berkualitas dan bisa bermain di kompetisi luar negeri. Ada lima saja pemain bintang yang lahir dari proyek ini, sudah sukses,” kata Besoes, yang sudah puluhan tahun berkiprah di PSSI. Singkat kata, proyek ke Uruguay ini tidak lagi berorientasi membentuk timnas, tetapi lebih untuk “mencetak bintang.”

Dari pertimbangan akal sehat, sulit memahami logika yang dibangun PSSI. Sepak bola bukan cabang individu, melainkan cabang yang melibatkan 11 pemain untuk bermain kolektif secara tim. Bagaimana mungkin menjadi bintang jika pemain tidak bermain kerja sama dengan rekan setimnya? Karenanya, wajar saja, jika pemain U-19 cenderung bermain sendiri, tidak melebur dalam tim, dan tidak tahu kapan dan bagaimana mengoper bola, atau menyusun serangan. Wong, “cetak biru” mereka berlatih bukan untuk membentuk tim!

Terlepas dari soal itu, paradigma pembentukan timnas yang dirancang PSSI sangat aneh. Untuk membentuk timnas, bukannya dengan membangun infrastruktur kompetisi. Dengan mengumpulkan para pemain dalam tim yang sudah digaransi mewakili Indonesia, pemain-pemain itu tidak mengalami atmosfer kompetisi. Mereka seperti berada di area comfort zone dan merasa tidak perlu lagi bersaing untuk masuk timnas.

Introspeksilah, PSSI

Dua kali kekalahan Timnas U-19 itu terjadi setelah beberapa hari sebelumnya timnas senior kalah 1-3 dalam uji coba melawan Singapura di Singapura. Situasi ini mirip saat Timnas U-23 gagal di Asian Games 2006. Saat itu, pada saat hampir bersamaan, timnas senior juga njeblok saat tampil pada sebuah turnamen di Vietnam, antara lain kalah 0-2 dari tim U-23 Vietnam dan takluk 0-5 dari tim U-23 Finlandia. Situasi kali ini bahkan lebih parah.

Sebab, bukan hanya pada level timnas U-19 dan timnas senior, penampilan timnas U-23 yang dipersiapkan untuk SEA Games di Laos, Desember mendatang, juga tidak kalah memalukan. Mereka kalah 1-3 dalam uji coba melawan tim U-23 Malaysia di Palembang. Bukan hanya kalah, tetapi juga terlibat kericuhan di lapangan. Dua pemain Indonesia dikartu-merah! Pelatih Malaysia, Rajagopal, pun menyampaikan kekecewaan atas uji coba ini. Kekecewaan yang seharusnya menjadi bahan introspeksi pengurus PSSI.

“Kami datang ke sini untuk bermain bukan bersitegang dengan wasit atau pemain. Jika Indonesia masih bermain seperti ini, saya prediksi akan sulit (Indonesia) untuk dapat bersaing dengan negara-negara Asean lainnya pada tahun-tahun mendatang,” kata Gopal, seperti dikutip kantor berita “Antara”. “Jika begini sepak bola Indonesia sendiri yang rugi.”

Nah, apakah tidak malu mendapat kuliah dari Negeri Jiran seperti itu?*

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: